GENUPDATE.ID – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika pada Jumat, 11 September 2026. Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Selain itu, petugas juga mencatat adanya tiga kali guguran lava. Guguran tersebut meluncur ke arah Kali Sat dan Kali Putih dengan jarak maksimum mencapai 1.800 meter.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan rekomendasi keselamatan. Terlebih, status Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Merapi Terlihat Jelas, Asap Kawah Mencapai 150 Meter
Berdasarkan pengamatan visual MAGMA Indonesia, Gunung Merapi terlihat jelas pada Jumat pagi. Sementara itu, asap kawah utama tampak berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tinggi.
Asap tersebut teramati mencapai sekitar 150 meter dari puncak. Kondisi cuaca di kawasan Merapi juga tercatat berawan.
Selain itu, angin bertiup tenang menuju arah timur. Suhu udara berada di sekitar 19,6 derajat Celsius.
Adapun kelembapan udara tercatat 77 persen. Tekanan udara berada pada angka 918,7 mmHg.
Kemudian, petugas mencatat tiga kali guguran lava. Guguran tersebut mengarah ke Kali Sat dan Kali Putih dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter.
Aktivitas tersebut menjadi perhatian karena guguran lava merupakan salah satu potensi bahaya di kawasan Merapi. Oleh sebab itu, masyarakat perlu menghindari wilayah yang masuk dalam zona bahaya.
Puluhan Gempa Terekam, Warga Diminta Jauhi Zona Bahaya
Aktivitas kegempaan juga masih terjadi selama periode pengamatan. MAGMA Indonesia mencatat 16 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–28 milimeter.
Gempa guguran tersebut berlangsung selama sekitar 33,95 hingga 179,2 detik. Selanjutnya, petugas mencatat 13 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak.
Gempa Hybrid memiliki amplitudo 2–23 milimeter. Sementara itu, durasinya berkisar 9,28 hingga 59,46 detik dengan S-P sekitar 0,4–0,7 detik.
Selain itu, petugas merekam 3 kali gempa Vulkanik Dangkal. Gempa tersebut memiliki amplitudo 2–6 milimeter dan berlangsung sekitar 16,8 hingga 23,99 detik.
Dengan demikian, terdapat 32 kejadian gempa yang tercatat selama enam jam pemantauan. Data tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik Merapi masih membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan.
MAGMA Indonesia menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas. Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer.
Selain itu, wilayah Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng masuk dalam area potensi bahaya hingga maksimal 7 kilometer. Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Kemudian, lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya.
MAGMA Indonesia juga mengingatkan masyarakat mengenai potensi lahar dan awanpanas guguran. Terlebih, risiko tersebut perlu diwaspadai ketika hujan turun di sekitar Gunung Merapi.
Di sisi lain, suplai magma masih berlangsung berdasarkan data pemantauan. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik. Oleh sebab itu, warga di sekitar Merapi sebaiknya mengikuti perkembangan informasi dari lembaga resmi.
Jika aktivitas Merapi mengalami perubahan signifikan, tingkat aktivitas gunung api akan segera ditinjau kembali oleh pihak berwenang.
