Tangerang Selatan, GENUPDATE.ID – Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan Tahun 2026 telah menetapkan tiga karya terbaik. Desainer asal Bandung, Gilang Muhammad Iqbal, berhasil meraih juara pertama.
Gilang tampil sebagai pemenang melalui karya bertajuk “Ming Galih Gaya”. Desain tersebut mengangkat konsep akulturasi tiga budaya.
Ketiga budaya itu meliputi Betawi, Sunda, dan Tionghoa. Karena itu, karya Gilang menghadirkan pesan tentang keberagaman budaya di Tangerang Selatan.
Pengumuman pemenang berlangsung dalam rangkaian kegiatan Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan 2026. Acara tersebut berlangsung di Serpong, Senin (31/8/2026).
Baca juga: Sayembara Batik Tangsel 2026: Karya Pemenang Jadi Milik Pemkot dan Bisa Diproduksi Masyarakat
Gilang Tidak Menyangka Raih Juara Pertama
Gilang mengaku tidak menyangka dapat meraih posisi pertama. Namun, ia tetap percaya terhadap konsep yang dituangkan dalam desain batiknya.
Menurut Gilang, ia mencurahkan berbagai unsur tentang Tangerang Selatan ke dalam karyanya. Selanjutnya, ia mengolah unsur tersebut menjadi desain batik yang memiliki makna budaya.
“Saya tidak mengira sama sekali, tapi saya percaya dengan desain yang saya buat. Saya curahkan semuanya tentang Tangerang Selatan dalam desain saya. Alhamdulillah diapresiasi sebagai juara satu,” ujar Gilang.
Bagi Gilang, penghargaan tersebut menjadi apresiasi terhadap proses kreatif yang telah ia jalani. Selain itu, kemenangan tersebut juga menjadi dorongan untuk terus berkarya.
Angkat Akulturasi Betawi, Sunda, dan Tionghoa
Gilang menjelaskan konsep utama dalam desain “Ming Galih Gaya”. Ia mengangkat akulturasi tiga budaya yang memiliki keterkaitan dengan karakter masyarakat Tangerang Selatan.
Ketiga unsur tersebut adalah budaya Betawi, Sunda, dan Tionghoa. Menurut Gilang, kekuatan ketiga budaya itu dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan desain yang memiliki identitas kuat.
“Saya mengangkat akulturasi tiga budaya, yaitu Betawi, Sunda, dan Tionghoa. Dari kekuatan tiga budaya yang berakulturasi inilah saya mencoba mengangkatnya ke dalam desain,” kata Gilang.
Dengan konsep tersebut, desain batik tidak hanya mengutamakan unsur visual. Namun, karya itu juga membawa cerita tentang keberagaman dan pertemuan berbagai budaya.
Makna Nama “Ming Galih Gaya”
Nama “Ming Galih Gaya” juga memiliki makna khusus. Gilang memilih tiga kata dari latar bahasa berbeda untuk merepresentasikan tiga unsur budaya dalam karyanya.
“Ming” berasal dari Mandarin Klasik. Kemudian, “Galih” berasal dari bahasa Sunda halus.
Sementara itu, “Gaya” merupakan kata yang merepresentasikan unsur Betawi. Ketiga kata tersebut kemudian dirangkai menjadi nama desain batik yang menjadi juara pertama.
Gilang juga mengaitkan ketiga unsur tersebut dengan motto Kota Tangerang Selatan. Motto tersebut adalah Cerdas, Modern, dan Religius.
“Ming dari Mandarin Klasik, Galih dari bahasa Sunda halus, dan Gaya dari bahasa Betawi. Ketiganya juga merepresentasikan motto Kota Tangerang Selatan, yaitu Cerdas, Modern, dan Religius,” jelasnya.
Dengan demikian, nama karya tidak hanya menjadi identitas desain. Nama tersebut juga memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui karya batiknya.
Dua Desainer Bandung dan Cianjur Masuk Tiga Besar
Selain Gilang, dua desainer lainnya juga berhasil masuk dalam tiga besar. Nuraeni Hasanah asal Bandung menempati posisi juara kedua.
Sementara itu, Jauza Alya Wada asal Cianjur berhasil meraih juara ketiga. Ketiganya menjadi desainer terbaik dalam Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan Tahun 2026.
Keberhasilan peserta dari Bandung dan Cianjur juga menunjukkan luasnya minat terhadap sayembara tersebut. Sebelumnya, peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Karena itu, sayembara batik Tangsel tidak hanya menjadi ajang kompetisi lokal. Kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi desainer dari berbagai daerah untuk mengenalkan gagasan kreatif mereka.
Berharap Batik Menjadi Identitas Tangsel
Gilang menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan atas penyelenggaraan sayembara tersebut. Ia berharap karyanya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan karena telah memberdayai karya saya menjadi juara satu. Saya berharap karya ini bisa berkenan, bermanfaat, dan menjadi salah satu identitas Kota Tangerang Selatan,” ucapnya.
Harapan tersebut sejalan dengan tujuan pengembangan batik khas Tangerang Selatan. Batik tidak hanya dapat menjadi produk fesyen.
Lebih jauh, batik juga dapat menjadi identitas daerah. Selain itu, produk batik dapat membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.
Dengan hadirnya desain “Ming Galih Gaya”, Tangerang Selatan memiliki karya baru yang membawa pesan keberagaman. Kini, karya tersebut diharapkan dapat berkembang dan semakin dikenal masyarakat. Tangerangselatan
