SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banten Pendidikan
Beranda » Siswa SMAN 2 Rangkasbitung Antusias Belajar Literasi AI, Relawan TIK Banten Kenalkan Teknologi Masa Depan

Siswa SMAN 2 Rangkasbitung Antusias Belajar Literasi AI, Relawan TIK Banten Kenalkan Teknologi Masa Depan

GENUPDATE.ID, LEBAK – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Karena itu, pemahaman mengenai teknologi digital menjadi bekal penting bagi generasi muda.

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan edukasi literasi AI di SMAN 2 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Jumat (30/10/2026). Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Banten bersama Indonesia Median Foundation (IMF) mengajak para siswa mengenal teknologi AI secara lebih dekat.

Kegiatan tersebut berlangsung interaktif. Sebanyak 50 siswa serta 10 guru dan staf sekolah mengikuti berbagai materi dan praktik penggunaan kecerdasan buatan.

Menariknya, para peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan narasumber. Mereka juga mengikuti permainan mengenali konten buatan AI dan konten asli. Selain itu, panitia memberikan merchandise kepada peserta yang aktif menjawab tantangan.

Program ini merupakan bagian dari KOMPAS (Kritis, Online, Mandiri, Positif, Aman, Santun) Seri Ke-4. Indonesia Median Foundation menggagas program tersebut untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai literasi digital.

1.428 Pemilih Ikut Pesta Demokrasi OSIS SMPN 16 Tangsel, Tiga Paslon Bersaing

Relawan TIK Banten Ajak Pelajar Kenali Risiko dan Keamanan AI

Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, Ahmad Taufiq Jamaludin, menjadi narasumber pada sesi pertama. Ia menjelaskan pentingnya memahami cara kerja kecerdasan buatan sekaligus mengenali risiko penggunaannya.

Menurut Taufiq, kemampuan menggunakan AI harus berjalan bersama pemahaman etika digital. Selain itu, pengguna perlu menjaga keamanan data pribadi saat mengakses berbagai platform AI.

Ia mengingatkan empat risiko utama penggunaan AI. Risiko tersebut meliputi penyalahgunaan teknologi dan penyebaran hoaks, bias dalam data, pelanggaran privasi, serta dampak terhadap lingkungan dan ketersediaan air bersih.

Selanjutnya, Taufiq mengajak siswa lebih teliti saat melihat gambar maupun video di internet. Sebab, konten buatan AI terkadang terlihat sangat mirip dengan kejadian nyata.

Beberapa ciri yang perlu diperhatikan antara lain bentuk tubuh yang tidak wajar, detail pakaian yang janggal, serta gerakan yang terlihat tidak alami. Bahkan, tampilan yang terlalu sempurna juga dapat menjadi petunjuk.

Yusril Buka Suara! Kasus Penyadapan Presiden Prabowo Belum Mengarah ke Makar

Untuk menguji pemahaman tersebut, narasumber mengajak siswa mengikuti permainan tebak gambar. Mereka harus menentukan apakah gambar yang muncul merupakan hasil AI atau dokumentasi asli.

Salah satu peserta bernama Rahma terlihat aktif memberikan pendapat. Ia bahkan menjelaskan alasan saat menilai sebuah gambar mobil yang melintas di atas salju sebagai konten buatan AI.

Dengan metode tersebut, siswa dapat belajar secara langsung. Mereka juga memperoleh pengalaman untuk berpikir kritis sebelum mempercayai informasi yang beredar di dunia digital.

Indonesia Median Foundation Tekankan Etika dan Praktik Penggunaan AI

Pada sesi kedua, Direktur Indonesia Median Foundation, Yulia Pratami atau Tami, mengingatkan bahwa AI tidak selalu memberikan jawaban yang benar.

Menurutnya, pengguna perlu mewaspadai tiga kelemahan AI. Pertama, halusinasi atau kemampuan AI menghasilkan fakta, tanggal, kutipan, bahkan referensi yang sebenarnya tidak pernah ada.

Geger! Tiga Jenderal Polri Jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo

Kedua, bias dalam hasil jawaban. Kondisi ini dapat muncul karena AI mempelajari data yang mengandung ketidakadilan. Ketiga, keterbatasan memahami konteks, termasuk bahasa daerah, aturan lokal, dan peristiwa terbaru.

Oleh sebab itu, Tami mengajak para siswa menggunakan AI sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan. Jangan sampai teknologi justru membuat penggunanya kehilangan kemandirian dalam berpikir.

Ia juga membagikan tiga kebiasaan penting dalam menggunakan AI. Pertama, berpikir terlebih dahulu sebelum mengajukan pertanyaan kepada AI. Kedua, memeriksa jawaban melalui buku, guru, atau sumber resmi. Ketiga, mengatur waktu penggunaan layar dan tetap menjaga komunikasi secara langsung.

Selain itu, Tami menekankan pentingnya etika digital. Pengguna tidak boleh membuat deepfake atau stiker menggunakan foto teman tanpa izin. Kemudian, siswa juga harus jujur apabila mengerjakan tugas dengan bantuan AI.

AI sebaiknya menjadi sarana untuk membantu sesama. Karena itu, pengguna harus menghindari pemanfaatan teknologi untuk perundungan maupun tindakan yang merugikan orang lain.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMAN 2 Rangkasbitung, Eneng Kustiawati, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut. Ia berharap Relawan TIK Banten dan Indonesia Median Foundation dapat kembali menghadirkan edukasi serupa bagi siswa maupun tenaga pendidik.

Pada penghujung kegiatan, peserta mengikuti praktik membuat konten menggunakan Gemini dan ChatGPT. Mereka mendapat tantangan membuat infografis pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) atau materi promosi produk makanan dan minuman.

Salah satu peserta, Abraham Aufa Nugraha, berhasil menarik perhatian narasumber melalui karya yang menarik, lengkap, dan minim anomali. Atas hasil tersebut, Abraham mendapatkan hadiah berupa saldo dompet elektronik.

Ia mengaku senang mengikuti kegiatan literasi AI tersebut. Abraham juga berharap penyelenggara dapat menghadirkan kegiatan dengan tema berbeda pada kesempatan berikutnya.

Program KOMPAS sendiri merupakan inisiatif Indonesia Median Foundation yang bekerja sama dengan Relawan TIK Indonesia. Setelah berjalan selama empat seri, program ini akan terus menyasar wilayah Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat.

Melalui edukasi ini, para pelajar diharapkan tidak hanya mahir menggunakan teknologi AI. Namun, mereka juga harus mampu memeriksa kebenaran informasi, menjaga privasi, serta menerapkan etika digital.

Dengan demikian, kecerdasan buatan dapat menjadi sarana pendukung pendidikan dan kreativitas. Pada akhirnya, generasi muda perlu menguasai teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan mandiri.

× Advertisement
× Advertisement