GENUPDATE.ID, 8 September 2026 — Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian pada Selasa pagi, 8 September 2026. BMKG terus memantau pergerakan abu melalui citra satelit dan data meteorologi penerbangan.
Pembaruan BMKG menunjukkan sebaran abu masih bergerak ke sejumlah wilayah di sekitar Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Selain itu, abu juga terpantau hingga wilayah Samudra Hindia.
BMKG memperbarui informasi tersebut pada Senin, 7 September 2026 pukul 19.00 WIB. Data ini menjadi acuan pemantauan kondisi atmosfer memasuki 8 September 2026.
Sebaran Abu Vulkanik Bergerak ke Arah Barat
Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada 7 September 2026 pukul 07.00 WIB, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau pada dua rentang ketinggian atmosfer.
Pada lapisan dari permukaan hingga 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer, abu terpantau menyebar dari sektor tenggara hingga barat laut. Sebarannya mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Sementara itu, pada lapisan 15.000 hingga 50.000 kaki, abu bergerak lebih jauh ke arah barat hingga barat daya. Sebaran tersebut mencapai wilayah Samudra Hindia di sebelah barat dan barat daya Bengkulu, Lampung, serta selatan Banten.
Selain itu, BMKG mencatat pola angin turut mendorong pergerakan abu ke arah barat. Pada pemantauan 7 September pukul 06.30–09.30 WIB, abu teramati hingga ketinggian 15.000 kaki.
Abu tersebut bergerak dengan kecepatan sekitar 15 knot. Intensitasnya juga tercatat relatif konsisten selama pemantauan.
Delapan Bandara Masih Menjadi Perhatian
Dampak sebaran abu vulkanik juga menyentuh sektor penerbangan. Karena itu, sejumlah bandara mengalami penutupan sementara sebagai langkah mitigasi keselamatan.
BMKG mencatat delapan bandara yang terdampak. Bandara tersebut meliputi Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Muhammad Taufiq Kiemas, dan Atung Bungsu.
Hasil paper test pada 7 September pukul 07.00 WIB juga mengonfirmasi indikasi keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara. Selanjutnya, AirNav Indonesia menerbitkan NOTAM terkait penghentian sementara operasional bandara terdampak.
Namun, status operasional bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu. Karena itu, penumpang perlu mengecek informasi terbaru dari maskapai dan otoritas bandara sebelum melakukan perjalanan.
BMKG Minta Warga Tetap Waspada
Di sisi lain, BMKG meminta masyarakat tidak panik menghadapi perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk melihat perubahan sebaran abu dan dampaknya.
Masyarakat di wilayah yang terdampak abu juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, warga sebaiknya menggunakan masker dan kacamata pelindung.
Langkah tersebut penting karena abu vulkanik dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan. Kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, perlu mendapat perhatian lebih.
Selain itu, masyarakat dianjurkan mengikuti informasi dari kanal resmi BMKG, PVMBG, BNPB, pemerintah daerah, serta otoritas penerbangan. Informasi resmi penting untuk menghindari kabar yang tidak terverifikasi.
Kondisi Selat Sunda Dipantau
BMKG juga terus memantau kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Pemantauan dilakukan menggunakan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung.
Berdasarkan data 7 September 2026 pukul 08.00 WIB, probabilitas tsunami di Selat Sunda berada dalam kategori rendah. BMKG juga tidak menemukan anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami melalui pemantauan tsunami gauge.
Sementara itu, arus permukaan laut bergerak dominan ke arah barat daya menuju Samudra Hindia. Kecepatannya berada pada kisaran 0,4 hingga 0,9 knot.
Untuk periode 8–13 September 2026, BMKG memprakirakan tinggi gelombang di Selat Sunda berkisar 0,5 hingga 2 meter. Kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda diperkirakan didominasi cerah hingga cerah berawan.
Potensi Cuaca dan Angin Kencang Tetap Diwaspadai
Selain abu vulkanik, BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap dinamika cuaca pada periode 8–14 September 2026.
Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi musim kemarau. Namun, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap dapat terjadi secara lokal.
Untuk periode 8–10 September, BMKG mencatat potensi peningkatan hujan sedang di sejumlah wilayah. Jawa Barat termasuk salah satu wilayah yang perlu mencermati perkembangan cuaca tersebut.
Selain hujan, angin kencang juga berpotensi terjadi di Banten dan Jawa Barat. Karena itu, masyarakat perlu mengantisipasi pohon tumbang, dahan patah, baliho roboh, genangan, serta sambaran petir saat cuaca memburuk.
Dengan demikian, perkembangan abu vulkanik Anak Krakatau masih perlu mendapat perhatian. BMKG terus memperbarui informasi berdasarkan pengamatan satelit, data atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut.
Masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya tetap tenang. Namun, kewaspadaan tetap penting, terutama ketika aktivitas luar ruangan tidak dapat dihindari.
