GENUPDATE.ID – Aktivitas Gunung Semeru di Jawa Timur masih berada pada Level III atau Siaga pada Sabtu, 12 September 2026. Kondisi tersebut berdasarkan laporan MAGMA Indonesia untuk periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Dalam pemantauan selama enam jam, petugas mencatat puluhan aktivitas kegempaan. Salah satu yang paling menonjol ialah 27 kali gempa letusan atau erupsi.
Selain itu, petugas juga mencatat gempa guguran, gempa hembusan, gempa harmonik, dan gempa tektonik jauh. Karena itu, aktivitas Gunung Semeru masih perlu mendapat perhatian masyarakat.
Gunung Semeru Terlihat hingga Tertutup Kabut
Secara visual, Gunung Semeru terpantau terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Sementara itu, petugas tidak mengamati asap kawah selama periode pengamatan.
Cuaca di kawasan gunung api berubah dari cerah hingga mendung. Kemudian, angin bertiup lemah menuju arah tenggara.
Suhu udara di sekitar Gunung Semeru berada pada kisaran 18 hingga 19 derajat Celsius. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin petugas di kawasan gunung api.
Namun, kondisi visual tidak menjadi satu-satunya indikator aktivitas. Oleh sebab itu, petugas juga memantau perubahan kegempaan secara terus-menerus.
27 Gempa Letusan Tercatat dalam Enam Jam
Data MAGMA Indonesia menunjukkan 27 kali gempa letusan atau erupsi selama periode pengamatan. Gempa tersebut memiliki amplitudo 10 hingga 24 milimeter.
Sementara itu, durasi gempa letusan berkisar antara 85 hingga 171 detik. Jumlah tersebut menjadi aktivitas kegempaan terbanyak yang tercatat dalam laporan periode tersebut.
Selain gempa letusan, petugas mencatat 5 kali gempa guguran. Gempa guguran memiliki amplitudo 1 hingga 7 milimeter dengan durasi 47 hingga 74 detik.
Kemudian, terdapat 2 kali gempa hembusan. Amplitudonya berada pada kisaran 4 hingga 5 milimeter. Durasi gempa tercatat antara 72 hingga 87 detik.
Petugas juga mencatat 5 kali gempa harmonik. Gempa tersebut memiliki amplitudo 3 hingga 14 milimeter. Durasi masing-masing kejadian mencapai 154 hingga 478 detik.
Selanjutnya, terdapat 2 kali gempa tektonik jauh. Amplitudonya tercatat 34 hingga 41 milimeter. Sementara itu, durasinya berada pada kisaran 154 hingga 478 detik.
Dengan demikian, total kejadian kegempaan yang tercatat mencapai 41 kejadian dalam periode enam jam.
Warga Diminta Menjauhi Sektor Tenggara
MAGMA Indonesia memberikan sejumlah rekomendasi untuk masyarakat. Salah satunya ialah larangan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak Semeru.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai sepanjang Besuk Kobokan.
Pembatasan tersebut penting karena perluasan awan panas dan aliran lahar dapat mencapai wilayah yang lebih jauh. Dalam rekomendasi tersebut, potensi bahaya dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
Karena itu, masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar aliran sungai perlu meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, hujan dapat meningkatkan potensi terjadinya aliran lahar.
Radius 5 Kilometer dari Kawah Harus Dihindari
Selain kawasan Besuk Kobokan, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru.
Wilayah tersebut memiliki potensi bahaya lontaran batu pijar. Oleh sebab itu, warga dan wisatawan perlu mematuhi batas aman yang telah ditetapkan.
Petugas juga mengingatkan masyarakat mengenai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar. Ancaman tersebut dapat terjadi di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu dari puncak Semeru.
Beberapa jalur aliran yang perlu diwaspadai antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.
Aktivitas Semeru Masih Perlu Diwaspadai
Gunung Semeru berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Gunung tersebut memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut.
Dengan status Level III atau Siaga, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan MAGMA Indonesia. Selain itu, warga sebaiknya tidak mendekati zona yang telah masuk dalam rekomendasi bahaya.
Masyarakat juga tidak perlu panik menghadapi aktivitas gunung api. Namun, kewaspadaan tetap penting karena aktivitas erupsi dapat berubah sewaktu-waktu.
Untuk itu, informasi resmi dari petugas harus menjadi rujukan utama. Hindari pula menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kepanikan.
Sumber: MAGMA Indonesia
