GENUPDATE.ID – Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga pada Sabtu, 12 September 2026. Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, aktivitas gunung api tersebut masih menunjukkan sejumlah kegempaan pada periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Dalam laporan tersebut, kondisi visual Gunung Merapi terpantau jelas. Namun, petugas tidak mengamati asap kawah pada periode tersebut.
Sementara itu, cuaca di sekitar Merapi terpantau berawan. Angin bergerak tenang menuju arah barat. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin aktivitas gunung api.
Puluhan Gempa Terjadi dalam Enam Jam
Aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih menjadi perhatian. Petugas mencatat 15 kali gempa guguran selama periode pengamatan.
Gempa guguran tersebut memiliki amplitudo sekitar 2 hingga 7 milimeter. Durasi setiap kejadian berkisar antara 43,06 hingga 167,98 detik.
Selain itu, MAGMA Indonesia mencatat 29 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak. Gempa tersebut memiliki amplitudo 1 hingga 32 milimeter. Durasi gempa berada pada kisaran 16,17 hingga 40,45 detik.
Selanjutnya, petugas juga mencatat 2 kali gempa Tektonik Jauh. Amplitudonya berada pada kisaran 31 hingga 47,9 milimeter. Sementara itu, durasinya mencapai 138,17 hingga 232,36 detik.
Dengan demikian, terdapat sedikitnya 46 kejadian gempa yang tercatat dalam laporan pengamatan enam jam tersebut.
Suhu Merapi Mencapai 19 Derajat Celsius
Selain kegempaan, petugas juga memantau kondisi klimatologi di sekitar Gunung Merapi. Cuaca pada periode pengamatan tercatat berawan dengan angin tenang menuju barat.
Suhu udara berada pada kisaran 17,3 hingga 19 derajat Celsius. Kemudian, kelembapan udara tercatat cukup tinggi, yakni sekitar 87 hingga 92 persen.
Tekanan udara berada pada kisaran 874,3 hingga 918 milimeter merkuri. Karena itu, kondisi cuaca tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan, terutama ketika hujan turun di kawasan Merapi.
Potensi Awanpanas dan Guguran Lava Masih Ada
MAGMA Indonesia masih mengingatkan masyarakat mengenai potensi bahaya Gunung Merapi. Potensi tersebut terutama berupa guguran lava dan awanpanas pada sejumlah sektor.
Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya mencakup aliran Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer. Selain itu, terdapat Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng yang juga masuk dalam wilayah potensi bahaya.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga maksimal 3 kilometer. Kemudian, Sungai Gendol memiliki potensi bahaya hingga 5 kilometer.
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak Merapi.
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan di daerah yang masuk dalam wilayah potensi bahaya. Warga juga perlu mewaspadai ancaman lahar dan awanpanas guguran, terutama ketika hujan terjadi di sekitar Gunung Merapi.
Suplai Magma Masih Berlangsung
Data pemantauan menunjukkan suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan MAGMA Indonesia. Selain itu, warga sebaiknya tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum memiliki sumber resmi.
Potensi gangguan akibat abu vulkanik juga perlu diantisipasi. Terlebih, perubahan aktivitas gunung api dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dengan status Merapi yang masih berada pada Level III atau Siaga, kewaspadaan tetap menjadi hal utama. Namun, masyarakat tidak perlu panik. Yang terpenting, warga mengikuti rekomendasi petugas dan menjauhi kawasan yang masuk zona bahaya.
Gunung Merapi sendiri berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Wilayah administratif yang terkait meliputi Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten.
Sumber: MAGMA Indonesia
